Tampilkan postingan dengan label my short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my short story. Tampilkan semua postingan

Love

Sore peralihan malam, seorang konsultan baru saja duduk berhadapan dengan seorang kliennya.
Kali ini seorang wanita bertudungkan kerudung.
“Apa yang bisa saya dengarkan dari Anda?”
Wanita itu tampak agak jengah,
“Apa disini dilarang merokok?”
Lelaki tua, si konsultan, menyodorkan pemantik.
Wanita itu dengan segera mengeluarkan sebatang rokok dari tas gandengnya dan menyambut api dari pemantik, setelahnya menghisap dan menghembuskannya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Berapa usia Anda, Nyonya Zuki, benar itu nama Anda?”
“Ya. Saya empat puluh tahun empat bulan dua puluh hari.”
“19 Mei 1958, benar?”
“Tepat sekali!” wanita itu berdecak kagum.
“Silahkan mulai.”


Wanita itu mendehem,
“Ketika saya berumur tujuh tahun, saya mengenal seorang wanita yang tidak pernah bisa saya kenal.
Bahkan sampai akhir hayatnya, saya tak pernah bisa mengerti dirinya dan segala yang ia perbuat pada saya.
Waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Saya rasa Anda tahu mengenai “mercenaries legendaris”.
Wanita itu, Hermes, itulah julukannya pada masa kekuasaannya.
Yang terlihat oleh saya pada saat itu, dia adalah seorang wanita berperangai keras dan tegas.
Fisik dan mentalnya bagai seorang wanita perkasa.
Waktu itu saya begitu mengaguminya.
Menghadapi kenyataan tubuh yang terlahir lemah, didalam hati kecil, saya sedikit berharap agar suatu saat saya bisa sekuat dia.
Waktu itu, saya benar-benar berharap begitu.
Dari kejauhan, dengan mengintip-intip, saya sering memperhatikan sosok punggungnya tengah berpidato dihadapan puluhan bawahannya dengan lantangnya.
Menyerukan kemerdekaan sejati. Menyulut sisa api karnaval.
Mengobarkan api amarah para kaum tertindas.
Kata-kata kasar tak senonoh sebagai ungkapan kebencian untuk kedua musuh terbesarnya,
Heavy Lotus Compagnie, organisasi kriminal dimana setiap aksi mereka tidak pernah melibatkan penduduk sipil,
dan Rider Phantasm, organisasi hitam beranggotakan para pengendara motor penguasa jalanan dimalam hari yang selalu meneror orang-orang dikalangan atas.
Hermes, sang pemimpin organisasi hitam, Hybrid, yang berambisi menjadikan Hybrid sebagai organisai hitam nomor satu didunia.”


“Saya berpikir, saya tidak peduli dengan organisasi atau semacamnya.
Saya hanya pedulikan Hermes.
Garis kehidupan yang berliku-liku telah merenggut naluri keibuannya.
Suatu saat nanti andai saya bisa bicara padanya, meski hanya sepatah kata saja.
Atau setidaknya saya bisa berdiri tegap dihadapannya dan dapat melihat pantulan bayangan diri saya dibola matanya.
Sekarang jika dipikirkan kembali, betapa bodohnya pemikiran saya itu. Berharap pada kemustahilan.
Pemikiran itu bermula sejak Hermes merasa keberadaan saya mengganggunya.
Ketika tanpa saya ketahui sebelumnya,
saya yang ingin mencoba mewujudkan harapan saya untuk berbicara dengannya,
mendatangi salah satu ruangan dimana saya dapati ia sedang bercumbu dengan seorang wanita entah siapa.
Kemudian Ratchet, tangan kanan Hermes dengan segera mengirim saya kesuatu tempat terpencil.
Hermes membuang pengganggu ini kesebuah tempat pengasingan, jauh dari Hybrid.
Disana pula Ratchet berkata pada saya bahwa ia percaya saya tidak tahu apa-apa dan tidak akan berbuat macam-macam.
Dia ingin saya tidak mengacaukan segalanya.
Dan ia juga tidak membiarkan saya mengetahui kabar Hermes.”


“Everroses House. Rumah pengasingan yang berhunikan anak-anak yang menderita cacat mental.
Saya baru akan menginjak delapan tahun dan Hermes menganggap saya sakit mental.
Tak satupun dari anak-anak yang berkelainan itu yang bisa saya dekati.
Maka dari itu saya menarik diri dari mereka. Tapi itu tidak berlangsung lama.
Karena tidak keseluruhan dari mereka seperti itu.
Ada Trish, anak laki-laki 13 tahun yang didiagnosa sebagai penderita Dissociative Identity Disorder.
Namun, para ahli terapi yang menanganinya mengatakan bahwa kepribadiannya yang lain kini non-aktif.”


“Hari yang beranjak bergulir membawa saya pada kedekatan dengan Trish.
Dia anak yang sangat baik dan mau berteman dengan siapa saja,
meskipun dengan anak-anak cacat mental itu.
Tentu saja itu membuat saya malu akan diri saya sendiri.
Trish benar-benar tipikal lembut dengan masa lalu kelam.
Ia memang telah banyak bercerita tentang dirinya pada saya.
Juga mengenai hal-hal yang kini membuatnya terus hidup dalam trauma mendalam.
Yang membuatnya menciptakan dirinya yang lain, Train, sosok gelap dirinya.
Agak lamanya kami saling membagi suka dan duka. Dan terciptalah perasaan sepihak diantara kami.


“Aku menganggapmu tidak lebih dari teman, Hezel.”


Ucapan itu nyaris membawa saya pada depresi.
Setidaknya saya tak lagi terlalu berharap.
Dan akibat keegoisan saya menarik garis pemisah, saya telah membangkitkan Train dari tidurnya.
Trish begitu menyayangi saya sebagai temannya. Tetapi justru tidak pada Train.
Amukannya yang nyaris setiap waktu membuat batin saya makin terguncang.
Keadaan itu membuat saya mati ketakutan karena Train selalu bilang ingin membunuh saya.”


“Seorang wanita muda berambut pendek dengan gaya aristokratnya muncul, ditengah ketakutan yang saya rasakan.
Wanita itu cantik, hanya suaranya saja yang terdengar berat.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai Eleanor, sang pemimpin Heavy Lotus Compagnie.
Dia menawarkan kepada saya beberapa pilihan.
Dan kemudian setelah itu, ia menarik saya dari rumah pengasingan dan membebaskan saya dari ancaman Train, setelah selang beberapa bulan saya menempati rumah itu.”


“Awalnya yang terbesit dibenak saya tentang Heavy Lotus Compagnie adalah tempat yang tidak jauh berbeda dengan Hybrid.
Namun, pemikiran itu bagai lenyap diterjang ombak begitu saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki didalam organisasi itu.
Hal yang membuat saya tercengang adalah para anggotanya yang menyambut kedatangan saya dengan baik.
Bukan berarti tidak ada diantara mereka yang berperangai keras.
Tetapi apa yang saya saksikan benar-benar jauh dari predikat ‘jelek’ yang selalu dikatakan oleh Hermes kepada bawahannya.
Mereka sungguh jauh dari bayangan Hermes,
meskipun para anggotanya adalah buronan dengan tingkat kriminalitas  tinggi sampai yang tingkat rendah.
Banyak wajah-wajah yang tampak familiar dimata saya.
Karena saya sering mengintip arsip-arsip milik Hermes yang ia simpan diruangannya.


“Kau harus membiasakan dirimu dengan senjata mulai detik ini.
Ada kalanya satu-satunya yang bisa kau percayai hanyalah dirimu sendiri.
Tetapi ada kalanya pula kau harus mempercayai keadilan didalam hatimu.
Dengan terus bertahan hidup demi suatu tujuan, maka pada saat itulah akan terasa bahwa kau benar-benar menjalani hidup dan kau tidak menyesalinya.
Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, karena ini adalah kehidupanmu.”


Kalimat Eleanor itu baru benar-benar bisa saya pahami enam tahun kemudian ketika saya genap empat belas tahun.
Saya lahir dan dibesarkan dimedan karnaval pertengahan Mei 1958.
Terlahir sebagai putri mercenaries legendaris dan melewatkan hidup yang keras didalam kungkungan Hybrid, sampai akhirnya dipungut oleh Eleanor.
Walau sejak kecil saya sering menyaksikan kekejaman karnaval,
dan diatas segalanya—kebrutalan Hermes—saya berhasil tumbuh cukup ‘normal’,
terlepas dari kenyataan saya hanya bisa menjalani hidup hidup sebagai mercenaries Heavy Lotus Compagnie.”


“Saya pun mendapat seorang partner,
Third, laki-laki sebaya saya yang kemampuannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan saya,
tapi pengambilan keputusan disaat genting,
serta bertempur dengan perhitungan penuh merupakan keunggulannya.
Rasa keadilan saya juga tidak setinggi Third, walau saya tidak akan mau disuruh membunuh orang yang tak berdosa, atau perempuan dan anak kecil.”

“Saya yang telah ditempa cukup keras oleh Heavy Lotus Compagnie telah melahirkan impian saya yang baru.
Saya merasa harus menjadi lebih kuat fisik dan mental untuk mewujudkannya.
Saya terus hidup dengan membunuh perasaan saya terhadap Hermes.
Apapun yang akan terjadi, saya harus tetap hidup, bagaimanapun caranya.”


“Saya dan Third, sebagai sebuah kombinasi yang cukup unik,
bahkan tidak hanya kami berdua, semua anak-anak dibawah umur yang menjalani hidup sebagai mercenaries sebuah organisasi,
mau tidak mau harus merelakan kodratnya sebagai anak-anak biasa,
meski kami masih tetap bersekolah.
Kami berdua menjalani kehidupan ganda sebagai mercenaries Heavy Lotus Compagnie sekaligus muris SMP biasa.
Jika ada perintah dari atasan, kami akan segera mencabut senjata.
Kadang-kadang menggunakan benda-benda yang ada disekitar,
seperti potongan pipa tajam, atau sekedar menyamar untuk mencari informasi dari musuh.”


“Saya dan Third menyukai Heavy Lotus Compagnie dan berusaha sebaik mungkin mempertahankan tempat kami bernaung,
yang semakin hari seolah-olah terus bertambah musuh.
Keberadaan Heavy Lotus Compagnie semakin hari semakin kokoh.
Hal itu mengundang perhatian Hybrid,
terutama Hermes—yang selepas saya pergi dari Everroses House dan bergabung dengan Heavy Lotus Compagnie—tidak pernah menampakkan dirinya.
Padahal dalam menjalani misi, saya tidak pernah menyembunyikan wajah saya,
berharap agar ia tahu bahwa saya telah berdiri diseberang pihak musuh,
dan saya bukanlah barang yang harus selalu ditutupi dan disembunyikan dari dunia luar.”


“Awalnya saya pikir, Hermes-lah satu-satunya alasan saya terus hidup.
Tetapi pemikiran saya itu dibantah oleh keberadaan Illich,
perempuan yang lebih jalang dari Hermes. Dia adalah pemimpin Rider Phantasm.
Gadis cantik bertutur kata lembut yang sangat suka membunuh.
Ia mengincar saya yang telah menghabisi nyawa ayahnya.
Mungkin karena pendidikan serta lingkungannya dibesarkan, Illich nyaris tidak pernah menganggap orang lain sebagai ‘manusia’,
dan bisa dengan mudahnya menyakiti dan menghabisi orang
dengan cara yang kadang-kadang sangat menyeramkan.
Setelah ayahnya tewas ditangan saya, ia memimpin Rider Phantasm
dan berpartisipasi dalam karnaval untuk memulihkan nama baik organisasi mereka.”


“Namun hal itu tidak mengganggu saya—pada awalnya.
Illich menepis hal itu dengan mengutus seseorang yang tidak pernah saya sangka sebelumnya.
Trish, atau lebih tepatnya Train,
datang sebagai mercenaries Rider Phantasm.
Pada mulanya saya ragu, tapi saat Train melukai Third, keraguan dalam hati saya lenyap seketika.
Eleanor memang pernah mengajarkan ‘keadilan dalam hati’ pada saya.
Saya memang pernah sempat mencintai Trish, tetapi tidak pada Train.
Train telah mebunuh Trish-saya
dan sayapun akan melakukan hal yang sama.
Meskipun Train hanyalah alter lain dari pribadi Trish, walaupun yang menciptakan Train adalah Trish sendiri,
dan sekalipun jika saya membunuh Train dengan kata lain saya membunuh Trish, saya tidak peduli lagi.
Tak ada yang lebih berharga dari partner-mu sendiri, begitu pikir saya.


“Kau bisa saja kehilangan orang yang kau kasihi dan mendapatkan penggantinya,
tapi kau tak bisa mendapatkan kembali teman seperjuanganmu
bila kau kehilangan dia nantinya.”


Third menyambut dan menerima keberadaan saya dengan sepenuh hati.
Ia rela mengorbankan nyawanya demi saya,
dan baginya, sampai kapanpun hanya sayalah partner-nya seorang,
dan takkan pernah tergantikan.”


“Kegagalan Train tidak membuat Illich menyerah.
Kali ini ia menyusupkan seorang mata-mata kedalam Heavy Lotus Compagnie.
Hal ini pertama kali disadari oleh Eleanor,
yang mengaku mengenal mata-mata itu dan diakuinya sebagai teman lama.
Semua anggota Heavy Lotus Compagnie—yang ada ditempat pada waktu itu—nyaris akan bertindak
jika seorang pria tidak muncul
dan menembak mata-mata itu tepat diotaknya.
Tak ada seorangpun anggota Heavy Lotus Compagnie yang mengenali pria itu, kecuali saya.
Ratchet, tangan kanan Hermes—yang keberadaannya tidak pernah terekspos media—datang
menyampaikan pesan dari Hermes bahwa ia ingin saya ikut bersamanya
untuk kembali menjadi bagian dari Hybrid
dan akan diangkat menjadi pemimpin.
Tawaran itu dijawab dengan peluru yang beterbangan kearah Ratchet oleh Eleanor dengan membabi buta.
Kemudian Ratchet hilang melarikan diri.
Hati saya diliputi kebingungan.
Eleanor dengan sikap dan cara bicaranya yang tegas mengatakan kepada saya tentang kenyataan akan mayat pria mata-mata itu
yang benar-benar menghantam saya bagai ombak besar.
Pria itu, Cesario, pria yang pernah menjadi suami Hermes,
pria yang selama ini saya cari-cari keberadaannya.
Kini hanya tinggal seonggok daging yang akan membusuk.”


“Ditengah rasa penyesalan yang mendalam, Third merangkul saya.
Berusaha menguatkan hati saya.
Hal ini semakin menyulut kebencian yang begitu membara disudut hati saya.
Semakin dalam keinginan saya untuk mewujudkan impian saya.
Dua orang didunia ini yang belum bisa saya kalahkan,
Illich dan Hermes.
Panggung battle-royal para pembunuh dunia hitam yang akan mempertaruhkan segalanya.
Disinilah saya akan menghadapi musuh terbesar saya,
organisasi yang telah memerintahkan Trish dan Cesario
yang kemudian membawanya kepada kematian,
serta orang yang telah melemparkan saya kedalam dunia penuh peluru dan darah ini,
Hermes, ibu kandung saya.
Orang-orang yang harus dibunuh, orang-orang yang harus dilindungi.
Saya dan Third terus berjuang, sambil dihantui bayang-bayang masa lalu
yang telah menanti diujung jalan berlumuran darah yang terlanjur kami lalui, Karnaval.”


“Saya sadar yang saya lakukan adalah pembunuhan. Sama sekali bukan hal yang baik.
Tapi saya juga sadar, ‘dunia’ bukan hanya satu.
Ada keadilan yang hanya bisa didapatkan dengan cara-cara kejam,
terutama jika sang pelaku kejahatan adalah orang dari pihak yang tak tersentuh hukum.”


“Eleanor tidak pernah menekan segala keinginan dan ruang gerak saya,
termasuk impian saya.
Walaupun Heavy Lotus Compagnie termasuk organisasi kriminal,
Eleanor membenci tindakan terorisme dan sebisa mungkin tidak melibatkan warga sipil
dalam semua aksi kami.
Sebagai pimpinan, ia menyayangi semua anak buahnya dan percaya sepenuhnya terhadap kami.
Tetapi, satu hal yang membuat saya kepikiran,
atas alasan apa Eleanor ‘memilih’ saya,
meskipun ia sendiri tahu siapa saya sesungguhnya.
Namun sampai saat itu, saya belum berani untuk mencoba menanyakannya.
Eleanor terlalu baik terhadap kami semua, anak buahnya,
dengan membiarkan kami melakukan apapun yang kami mau,
meskipun sikapnya dingin dan kadang tidak pedulian.”


“Dari yang saya dengar oleh Third, ia terlahir sebagai putri seorang mafia Rusia
dan seorang wanita chechnya.
Dulunya dia seorang lady, tetapi semenjak ayahnya dibunuh oleh Hermes muda—kawan
seperjuangannya—peristiwa itulah yang menjadi landasan didirikannya
Heavy Lotus Compagnie, organisasi hitam yang waktu itu masih sangat kecil,
dan ia berdiri sebagai pimpinannya.
Semua bawahannya yang ia pungut adalah anak-anak orang tua mereka
yang menjadi korban penindasan Hermes,
termasuk Third, yang ayahnya dipenggal kepalanya oleh Hermes karena ayah Third adalah
sekutu Izar—mafia Rusia yang dihabisi Hermes sekaligus ayah Eleanor.”


“Dari yang saya dengar dari mulut Eleanor sendiri, ia dan Hermes teman dekat semasa SMP.
Hermes menyukai Cesario, sepupu Eleanor, dan keduanya memutuskan untuk menikah diusia dini.
Hermes mulai berubah ketika Cesario berkhianat
dan membanting stir kepihak Tereus—pemimpin Rider Phantasm terdahulu sekaligus ayah Illich,
yang tewas ditangan saya.”


“Semenjak itulah perhatian Hermes berpaling kepada saya
dan itu mungkin menjadi alasan ia mengutus Ratchet untuk membunuh Cesario
sebelum Cesario mendekati saya.
Tapi itu baru sekadar hipotesis saya.
Sesungguhnya saya tidak pernah bisa memahami apa yang ada didalam pikiran Hermes.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya memang pernah mengaguminya.
Sosoknya begitu lekat dibenak saya waktu itu.
Namun, kini melihat Heavy Lotus Compagnie, Eleanor, Third dan kekejaman karnaval
telah membuka mata saya.
Hermes mungkin memang seorang mercenaries legendaris
yang terkenal akan kekuasaan, kekuatan dan kekejamannya.
Kalau diumpamakan, dia seperti ular yang membelit mangsanya
hingga mati sambil tersenyum kejam.
Sehingga, karena reputasinya ini, banyak orang yang membencinya.
Dan kenyataaan yang paling mengganggu saya adalah
bahwa saya terlihat seolah-olah seperti calon generasi penerus sang mercenaries legendaris,
yang telah banyak membunuh orang-orang berpengaruh dikalangan bangsawan,
termasuk Tereus.
Belum lagi status anak-ibu itu sungguh benar-benar membuat saya tidak tahan.”


“Angin perubahan mulai berhembus kearah saya sejak kehadiran anggota baru,
Magus, gadis pemula dalam hal apapun berkaitan tentang dunia hitam dan karnaval,
namun merupakan seorang jenius mekanik.
Saya selalu tampil acak-acakan dengan rambut silver blonde, mata yang menyorot tajam bak
seekor serigala, dengan semua aksi yang menyeringai buas,
serta selalu menggandeng senapan laras panjang.
Saya mulai sedikit berubah setelah dekat dengan gadis itu,
walau awalnya saya malas menghadapinya karena keluguan dan kepolosannya,
juga sikapnya yang selalu tidak pernah bisa tenang.
Setelah selang tidak berapa lama,
ia menjadi maskot Heavy Lotus Compagnie dan menjadikannya sebagai mood-maker dalam
organisasi kriminal itu.
Mecredi, ibunda Magus, menjadi korban pelecahan seksual oleh Hermes.
Saya merasa ketidak asingan ketika Magus memperlihatkan foto ibunya kepada saya.
Samar-samar didalam penggalian memori saya enam tahun lalu,
wanita yang bercumbu dengan Hermes disebuah sofa disalah satu ruangan yang hendak saya datangi.
Setelah itu yang saya ingat,
saya telah berada dirumah pengasingan Everroses House.”


“Magus dipungut oleh Eleanor dari sebuah panti asuhan.
Setelah mengenal lebih dekat dengannya,
yang ada dibenak saya berkenaan dengan Magus adalah
diluar sifat ceria dan kekanak-kanakannya, ia cenderung merasa rendah diri
karena ia tidak seperti saya dan yang lainnya.
Menurut pengakuannya, hanya dengan berada disisi sayalah ia bisa merasa dirinya lebih berarti.
Dua kali ia menghadapi pengalaman menyakitkan karena saya yang telah dua kali menolaknya.
Tapi, hal itu sama sekali tidak melunturkan perasaannya terhadap saya.
Sebaliknya malah, ia merasa harus selalu berada disisi saya.
Ia sedih saya hanya bisa hidup sebagai pembunuh,
tetapi ia selalu berusaha mengerti dan selalu menjadi tempat dimana saya bisa menunjukkan kelemahan saya.
Perlahan-lahan, saya mulai mengakui dan menerima kehadirannya dalam hidup saya.”


“Untuk kedua kalinya,
Rider Phantasm menyusupkan mata-mata kedalam Heavy Lotus Compagnie.
Namun, kali ini Illich sendiri yang turun secara langsung untuk bertemu dengan saya.
Saat itu saya sedang mandi.
Ia langsung menyelundup masuk kekamar mandi saya.
Saya tidak kaget akan hal itu, karena
meskipun saya belum pernah bertemu muka dengannya barang sekalipun,
saya mengenali wajah, sifat, dan tutur katanya yang halus dan penuh pelecehan.
Mendapat kesempatan sebagus ini bisa langsung bertemu musuh terbesar,
membuat saya tidak akan melepaskannya begitu saja.
Dengan berbalut handuk, berondong peluru ditembakkan
namun ia dengan lincahnya menghindari semua peluru senapan saya.
Untuk yang kedua kalinya pula Ratchet ikut campur.
Pria itu bermaksud mencabut nyawa Illich seperti yang telah ia lakukan pada Cesario.
Eleanor turun tangan bersama dengan Third untuk memisahkan Ratchet dari saya dan Illich.
Namun,
serangkaian pengganggu lagi-lagi ikut meramaikan saat saya nyaris ditikam oleh Illich
yang berhasil mengungguli saya dan tengah menduduki saya,
tiba-tiba Illich—dengan senyum liciknya, jatuh tergeletak tak berdaya diatas tubuh saya
dengan pisau belati tertancap diatas kepalanya.
Yang membuat saya tercengang bukanlah hal itu,
melainkan orang yang telah mengganggu kami.
Hermes, wanita jahanam, musuh terbesar dalam hidup saya,
tengah berdiri dihadapan saya yang tengah berbalut handuk.
Darah saya mendidih meluap-luap sampai keubun-ubun melihat ditangannya
ditenteng kepala Magus tanpa tubuhnya.
Ditengah serbuan saya yang membabi buta,
ia masih sempatnya menawarkan hal sama yang pernah ditawarkan oleh Ratchet, kaki tangannya,
sekaligus untuk pertama kalinya ia berbicara secara langsung kepada saya.


“Untuk apa sebenarnya kau hidup, demi organisasi dan gadis sampah ini, hah?
Kau bahkan tak lebih dari sekedar anjing Heavy!”


Saya membalas,


“Persetan dengan hal itu!
Aku hanya inginkan kematianmu!”


Saya—yang dibakar kebencian dan berusaha mengenai satu peluru saja kepadanya,
bahkan dengan bela diripun saya masih jauh dibawahnya—mulai kehabisan cara.
Ditengah kekacauan itu, secara kebetulan saya mendapatkan setitik celah untuk menghabisinya.”


“Setelahnya Eleanor muncul menyaksikan Hermes yang telah tergeletak didepan kaki saya
dengan mata melotot tak lagi berkedip-kedip dan
darah yang mengalir dari ubun-ubunnya dari sebilah pisau kecil
yang tertancap tepat diotaknya.
Senyum licik tersungging dari wajahnya yang telah penuh kucuran darah.
Handuk saya telah belepotan darah.
Saya berdiri menunduk menatapi orang yang kini tergeletak tidak berdaya
sambil tersenyum penuh kemenangan
ditengah nafas saya yang tersengal-sengal.
Saya melihat kearah Eleanor yang tersenyum lembut kepada saya,
satu hal yang tidak pernah ia lakukan kepada saya sekalipun.”


“Singgasana battle-royal kini diduduki oleh Heavy Lotus Compagnie.
Tak ada yang tahu bagaimana nasib Hybrid dan Rider Phantasm
setelah masing-masing pemimpin gugur dimedan karnaval.
Sisa-sisa bawahannya telah membubarkan diri.
Heavy Lotus Compagnie berevolusi menjadi organisasi raksasa yang merupakan penguasa dunia hitam.
Impian saya telah terwujud.
Tak ada lagi alasan bagi saya untuk menetap didalam Heavy Lotus Compagnie.
Saya mengundurkan diri dari dunia hitam.”


“Dan kini, saat ini, saya bekerja lepas sebagai jurnalis
dengan memakai nama pena Zuki, sampai sekarang.
Saya memalsukan kematian Hezel dan berpindah-pindah kenegara lain
dengan identitas yang berbeda-beda pula.”


Sang konsultan bangkit dari kursinya sambil berdiri membelakangi kliennya.
Setelah sejenak berdiam, ia pun membalikkan badan
“Ada yang ingin Anda katakan?”
“Menurut Anda bagaimana?”
“Saya tidak tahu.”
“Begini,” sang konsultan mendehem, “jangan tersinggung jika saya mengatakannya…”
“Tidak apa-apa, saya memang mengharapkan pendapat yang sejujurnya dari mulut Anda.”
“Baik, Nyonya Zuki,
yang saya dapatkan dari mendengar cerita Anda adalah alasan-alasan segala tindak tanduk Hermes.


Yang pertama,
ia sendiri tahu segala sesuatu tentang dirinya, termasuk
kriminalitas tingkat tinggi yang dilakukannya yang sangat tidak manusiawi.


Yang kedua,
segala keburukan dan aib yang dimilikinya memang sengaja ia tutupi untuk
menjauhkan Hezel dari segala imbas dan resikonya dengan cara
mengungkung Hezel dari dunia luar dengan harapan agar segala bentuk kekejaman
diluar sana tidak menimpa Hezel.
Alasan ia membunuh Magus juga agar kejadian yang terjadi padanya
dengan ibunda Magus, tidak terulang pada diri Hezel,
dengan harapan agar Hezel dapat hidup ‘normal’.
Impiannya adalah menjadikan Hybrid organisasi hitam nomor satu didunia,
kemudian mengangkat Hezel sebagai pemimpinnya.
Karena membunuh telah mencanduinya,
ia pun mempunyai impian lain untuk menghentikan semua itu, yaitu dengan dibunuh.
Tetapi ia tak sudi menyerahkan nyawanya kepada sembarang orang
karena  harga dirinya yang sangat tinggi.
Maka impiannya yang lain adalah agar ia mati ditangan Hezel
dan Hezel memimpin Hybrid.
Seorang mercenaries legendaris  seperti dia tak mungkin dengan mudahnya dapat dikalahkan begitu saja.
Sejak awal ia telah mempersiapkan diri untuk dibunuh oleh Hezel.
Dan demi melindungi anak satu-satunya,
ia memutuskan untuk melakukan itu dan rela dengan resiko
dibenci seumur hidup oleh Hezel.
Ia telah menyingkirkan semua orang yang dianggap membahayakan nyawa Hezel.
Semuanya demi Hezel.”
“Apa yang membuat Anda berpikir begitu?”
“Saya rasa Anda sendiri tahu jawabannya,
hanya saja Anda berusaha menghindari kebenaran yang ada.”
Wanita itu bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan kearah pintu.


“Yang ketiga,
sebenarnya yang paling menyeramkan dari Hermes
bukanlah sejarah penuh darahnya, tetapi landasan dasar atas semua aksinya,
‘cinta’ yang tak terbatas terhadap Hezel, putrinya.”
Wanita itu menatap sekilas sikonsultan sambil tersenyum licik,
kemudian merapikan kerudungnya dan hilang kebalik pintu.

End

Present

“Jo, tolong angkut kardus itu ke dalam!”

Terdengar seruan seorang wanita dari dalam vila yang meminta agar gadis cilik yang berada di dalam truk pengangkut barang, ikut serta mengangkuti kardus-kardus barang ke dalam vila. Gadis cilik yang tengah asyik terbuai dengan headphone nya tak mendengar panggilan itu.

“Buruan, Jo!”

Tak ada sahutan yang di sampaikan gadis cilik itu. Kepalanya angguk-angguk menikmati alunan irama hiphop dari headphone nya. Matanya memejam seolah menyimak dengan seksama nada-nada yang tersampaikan ke gendang telinganya. Langkah demi langkah yang kian menghampirinya pun tak tergubris olehnya. Ia masih terlena di tempat duduk di depan bak besar tempat kardus-kardus berada, namun jendela di sampingnya terbuka. Memungkinkan tangan wanita itu menggapai headphone gadis ciliknya dan menariknya dari kepala gadis cilik tersebut.

Gadis cilik itu pun membuka matanya, “hei, aku sedang asyik mendengarkan album Chris Brown yang terbaru!” serunya.

“Ya, kau sedang asyik membiarkanku bekerja sendirian,” balas wanita itu sambil membuka pintu mobil dan menurunkan gadis cilik itu dari tempat duduknya, “sekarang bantu aku atau tidak akan ada makan siang,” ancamnya.

“Ya, ya,” gerutu gadis cilik itu sambil mengikuti wanita itu naik ke dalam bak besar dan mengangkut kardus-kardus kecil yang terjangkau oleh tenaganya.

Setelah bolak-balik selama lima belas menit memindahkan kardus-kardus ke dalam vila, gadis cilik berlari menghampiri sofa empuk bermotifkan polkadot dan menghempaskan tubuh di sofa tersebut sambil mengeluarkan nafas panjang.

“Jun, aku haus!” teriak gadis cilik itu.

“Nih,” wanita itu menyerahkan botol berisi air mineral segar yang diambil dari dalam kulkas, “kau suka vila ini?”

“Vila ini bagus,” kata gadis cilik sambil menyambut botol air mineral tersebut, “berapa lama kita akan di sini?” tanyanya.

“Selama yang kau mau,” jawab wanita itu sambil menempatkan diri disamping gadis cilik, kemudian merangkulnya, “bagaimana kedengarannya, hm?”

“Kau memang yang terbaik,” kata gadis cilik itu sambil memeluk wanita disampingnya, “ini hadiah ulang tahun paling keren yang pernah ku dapatkan.”

“Nah,” ujar wanita itu sambil mengacak-acak rambut pendek gadis ciliknya dengan lembut, “kau boleh jalan-jalan keluar selagi aku menyiapkan makan siang. Biasakanlah dirimu dengan lingkungan di sini.”

“Benarkah?” tanya gadis cilik itu dengan wajah berseri-seri.

“Tapi jangan jauh-jauh,” timpal wanita itu.

“Okeh!”, jawab gadis cilik itu setengah terpekik sambil berlari keluar pintu dengan bersemangat sementara wanita itu tak kuasa menahan senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setibanya di luar, tak jauh dari vila, gadis cilik menemukan sebuah pemandangan seorang anak laki-laki yang kira-kira sebaya dirinya, sedang terduduk seorang diri disalah satu ayunan di pekarangan rumah yang tampak tua dan tak terurus.

Gadis cilik mencoba menghampiri tempat anak laki-laki tersebut berada dalam derap langkahnya yang berlompat-lompatan kecil. Sembari matanya meneliti sosok yang tertangkap matanya tersebut. Anak itu berkenakan kemeja lengan panjang usang berwarna abu-abu dan celana jeans coklat tua. Rambutnya kusut acak-acakan , begitu pula raut wajahnya. Kulitnya putih sekali, berbeda dengan dirinya yang berkulit gelap. Pandangan mata anak itu menerawang. Pikir sigadis cilik mungkin anak itu tengah melamun.

Gadis cilik menaruh diri pada ayunan di sebelah anak itu, “hai,” sapanya sambil memandang anak laki-laki sebelahnya.

Anak itu tak menyahut.

“Kenapa kau sendirian?” tanya gadis cilik.

Kembali anak itu tak memberi jawaban.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya gadis cilik lagi.

Kali ini anak itu hanya memutar kepalanya. Matanya yang sendu menatap gadis cilik itu.

“Kenapa kau tak bermain saja?” tanya gadis cilik tak mau menyerah.

“...tak punya teman...” jawab anak itu akhirnya dengan nada suara yang agak bergetar.

Gadis cilik tersenyum spontan, “kalau begitu, aku yang akan jadi temanmu,” gadis cilik itu memutuskan, “aku tidak keberatan.”

Anak itu memandang gadis cilik di sebelahnya dengan pandangan agak tercengang, namun ekspresinya datar.

“Namaku Jo,” gadis cilik memperkenalkan diri sambil kedua tangannya menggenggam rantai ayunan, “kau?”

Anak itu tak menjawab lagi. Sesekali matanya memandang lemah gadis cilik, kemudian mendesah namun desahannya tak terdengar oleh telinga sigadis cilik.

“Aku tinggal di sana,” gadis cilik menunjuk vila yang berada tiga meter barat daya dari tempat ayunan yang di dudukinya berada.

“Aku baru tiba di sini beberapa menit yang lalu,” sambung gadis cilik itu, “aku bersama bibiku, Jun, kalau kau mau main ke rumahku, akan kuperkenalkan dia padamu.”

“Tidak bisa,” jawab anak itu pelan.

“Hah? Apa?” tanya gadis cilik itu tidak kedengaran.

“Aku tidak bisa,” ulang anak itu tetap dengan suara pelan.

“Kenapa?” tanya gadis cilik agak kecewa, “orang tuamu yang melarangmu?”

Anak itu menggeleng pelan.

“Mm...baik,” gumam gadis cilik, “kalau begitu aku saja deh yang akan sering main ke rumahmu. Rumahmu dimana?”

Anak itu menjawab dengan menolehkan pandangannya ke belakangnya. Gadis cilik pun melakukan hal yang sama. Ayunan yang dinaikinya adalah milik rumah tua tak terurus yang ternyata temapt tinggal anak laki-laki itu.

“Berarti kita tetangga!” teriak girang gadis cilik itu, “aku akan main setiap hari kesini! Boleh kan?”

Anak itu tak menjawab untuk yang kesekian kalinya.

“Aku ingin tahu namamu,” gadis cilik mengalihkan.

Anak itu menatap gadis cilik dengan pandangan yang tampak seperti menimbang-nimbang.

“Ayolah...” pinta gadis cilik itu dengan wajah memelas, “aku harus tahu siapa nama orang yang akan menjadi temanku.”

Bibir anak itu bergetar, “Ga...lih...”

Gadis cilik tersenyum puas, “baiklah, Galih, aku harus pulang dulu,” kata gadis cilik meminta diri untuk pamit, “sekarang sudah waktunya makan siang, nanti Jun akan marah kalau aku sampai terlambat.”

Gadis cilik bangkit dari ayunannya sambil melangkah riang. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia membalikkan badan.

“Oh ya, hari ini hari ulang tahunku,” kata gadis cilik bersemangat, “dan vila itu adalah hadiah ulang tahun dari Jun untukku.”

Anak itu tak menanggapi apa-apa. Ia hanya menatapi gadis cilik yang tersenyum manis padanya. Bahkan pandangannya tetap tak berpaling ketika gadis cilik melangkah meninggalkannya. Pandangannya tertuju pada punggung gadis cilik yang belum jauh darinya.

Lagi-lagi gadis cilik mengerem langkahnya. Ia membalikkan badan dan di dapatinya ayunan tempat anak itu duduk kosong. Sosok itu raib. Gadis cilik mengerutkan alis. Namun ia memutuskan untuk kembali ke vilanya dengan langkah ceria.



“Tidur yang nyenyak,” wanita itu menduduki tepi ranjang milik gadis cilik nya sambil menarik selimut sampai ke leher si gadis cilik, “sekarang sudah jam dua.”

“Aku suka tempat ini,” kata gadis cilik sambil tersenyum manja.

“Bagus kalau begitu,” balas wanita itu.

“Tadi siang aku berkenalan dengan seorang anak,” cerita gadis cilik.

“Oh ya?”

“He-eh, namanya Galih, ia tinggal di sebuah rumah tua yang ada ayunan di pekarangannya, tidak jauh dari vila ini. Mungkin nanti kau bisa melihatnya dari jendela,” jelas gadis cilik bersemangat.

Wanita itu mengelus-elus kepala gadis cilik yang tergeletak dibantalnya yang empuk, “seperti apa Galih itu?” tanyanya lembut.

“Anak yang aneh!” jawab gadis cilik cepat, “ia sangat pendiam sekali!”

“Mm...” wanita itu bergumam sambil mengangguk kecil.

“Ia juga bilang bahwa ia tak punya teman, makanya aku menawarkan diri untuk menjadi temannya!” lanjut gadis cilik bercerita, masih dengan bersemangat.

“Anak baik,” kata wanita itu sambil tersenyum lembut.

“Karenanya, aku boleh kan main kesana tiap hari?” pinta gadis cilik dengan wajah memelas, “boleh kan, Jun?”

Wanita itu mengerutkan kening, melihat kesekelilingnya, menimbang-nimbang, kemudian mengangguk sambil tersenyum.

“Yes!” teriak girang gadis cilik.

“Ya, ya,” wanita itu menyudahi, “beberapa jam lagi akan terbit fajar, kau harus tidur banyak untuk pertumbuhanmu.”

“Aku selalu tumbuh,” gerutu gadis cilik.

“Tapi otakmu kurang berkembang,” balas wanita itu sambil cekikikan dan menepuk-nepuk lembut kepala gadis ciliknya.

“Enak saja!” timpal gadis cilik agak kesal.

Wanita itu hanya membalas dengan tersenyum. Kemudian tubuhnya bangkit dari dari tepi ranjang dan segenap mencondongkan tubuh kedepan untuk mengecup kening gadis ciliknya. Lalu ia berjalan menuju pintu sembari mengucapkan dua patah kata sebelum ia memencet tombol untuk mematikan lampu kamar sigadis cilik, “selamat tidur.”

“Selamat malam,” balas gadis cilik sebelum ia memejamkan mata.

Setelah menutup pintu kamar sigadis cilik, wanita itu baru akan melangkahkan kaki untuk menuruni tangga, matanya terpancing kejendela disebelahnya. Ia mendekati jendela itu untuk mencari letak pasti rumah tua berhiaskan ayunan pada pekarangannya seperti yang diceritakan oleh gadis ciliknya.

Dan alangkah tersentaknya wanita itu ketika matanya mendapati sosok anak laki-laki berayun-ayun pada salah satu ayunan dengan raut wajah datar, namun sorot matanya dingin. Wanita itu dahinya berkerut. Matanya tak berkedip dan tak bisa lepas dari pemandangan itu. Ia lebih tersentak kaget lagi ketika wajah anak laki-laki itu mendongak kearahnya. 

Merasa ketahuan memperhatikan, situasi itu memaksa wanita itu secara refleks mundur dari jendela disampingnya. Perasaannya campur aduk. Mulutnya seolah terkunci rapat sehingga tak ada yang dapat diucapkan untuk mengungkapkan atas apa yang telah disaksikannya. Yang dirasakan hanya nafas yang tersendat-sendat dan degup jantung yang begitu cepatnya. Wanita itu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Mungkin ada yang salah dengan penglihatannya, begitu pikirnya.

Ia pun memutuskan untuk mengintip kebalik jendela lagi untuk memastikannya. Dan didapatinya ayunan kosong tiada siapa-siapa diatasnya. Wanita itu segenap menghembuskan nafas lega sembari menggeleng-gelengkan kepala. Setelahnya ia menuruni tangga dengan sosok anak laki-laki berdiri tegap dibelakangnya.



“Jun!” teriak gadis cilik dalam derap langkah kakinya menuruni tangga. Setelah ia menyelesaikan anak tangganya, ia berlari kecil kearah dapur dengan penampilan masih mengenakan piyama.

“Jun! Kau harus lihat ini!” teriak gadis cilik lebih heboh lagi.

Namun kehebohannya menyurut ketika ia tak menemukan Jun-nya didapur. Kemudian ia menghampiri memo mini yang tertempel dikulkas yang bertuliskan pesan dari wanita itu untuknya. Disana tertulis bahwa ia telah pergi kerja pagi-pagi sekali dan ia telah menyiapkan sarapan untuk gadis cilik tersebut.

Gadis cilik menghampiri meja makan dan menduduki kursinya. Ia meletakkan sebuah kotak mungil bersampulkan kertas kado yang dibawanya dari kamarnya. Benda itulah yang hendak diperlihatkannya kepada wanita itu.

Untuk memenuhi rasa penasaran luar biasanya, gadis cilik memutuskan untuk membuka kado mungil itu agar mengetahui isi didalamnya daripada harus menunggu kepulangan bibi-nya terlebih dahulu.

Gadis cilik tercengang dengan wajah berseri-seri ketika mengetahui isi dari kotak mungil itu. Seutas liontin sapphire berwarna hijau zamrud. Gadis cilik pun membuka liontin itu. Perempuan muda dan seorang pria disisi kanannya, sementara disisi kiri tampak anak laki-laki yang serupa dengan anak laki-laki yang baru menjadi temannya kemarin. Tiga orang didalam liontin itu tersenyum. Tampak bahagia sekali. Gadis cilik agak bingung. Kemudian dalam kotak mungil itu, gadis cilik menemukan yang lainnya, yakni kertas gulung kecil. Ia membuka gulungan itu dan pesan disana tertulis ucapan selamat ulang tahun yang ditulis berantakan dengan tinta merah. Gadis cilik tersenyum bahagia.



“Hei!” sapa gadis cilik dari kejauhan sambil berlompat-larian ria dengan raut wajah cerianya yang khas. 

Dilehernya tergantung benda dari kotak mungilnya yang ia tinggalkan ditempat tidurnya.

Ia menyelipkan tubuh keayunan disebelah anak laki-laki disampingnya sembari mengumbar senyum.

“Terima kasih,” ucapnya riang sambil menunjuk benda yang kini dikenakannya, “ini pasti dari kau, kan?”

Anak itu tak memberi jawaban seperti biasanya.

“Oh ya, apa ini kedua orang tuamu?” tanya gadis cilik sambil membuka liontinnya dan menunjuk foto disisi kanan liontin tersebut.

Anak itu memutar bola matanya, menoleh kearah gadis cilik sambil mengangguk pelan.

“Sebenarnya aku masih bingung,” tutur gadis cilik, “kalau ini adalah kedua orang tuamu, seharusnya liontin ini adalah benda paling berharga bagimu. Tapi kenapa kau menghadiahkannya padaku?”

Anak itu kembali menjawab dengan kebisuan.

“Kau tahu?” tanya gadis cilik sambil tersenyum malu-malu, “ini benar-benar surprise karena bayangkan, saat kau terjaga dari mimpimu, tiba-tiba ada kado mungil diatas selimutmu, dan yang paling mengejutkan adalah itu pemberian dari temanmu!” cerita gadis cilik itu dengan menggebu-gebu.

Anak itu memandangi gadis cilik disebelahnya yang tengah asyik berceloteh. Pandangan matanya lembut dan tulus.

“Ini adalah benda berharga milik temanku,” sambung gadis cilik masih bercerita dengan bersemangat, “berarti ini juga benda berharga bagiku! Aku akan menjaganya baik-baik! Aku janji!”

“Kau suka?” tanya anak itu pelan.

“Tentu saja!” jawab gadis cilik cepat sambil tersenyum.

Anak itu balas tersenyum perlahan-lahan. Senyuman tipis yang begitu rapuh, tetapi begitu tulus dan hangat. 

Gadis cilik tercengang. Hatinya diliputi suka cita saat menyaksikannya.

“Akhirnya aku melihatmu tersenyum...ini mungkin juga hadiah ulang tahun yang kedua darimu” kata gadis cilik terharu, “terima kasih.”

Anak itu menjawab dengan mengangguk sekali.

“Oh ya,” kata gadis cilik mengalihkan, “dimana kedua orang tuamu? Aku belum mendengar kau menceritakan tentang mereka.”

Anak itu menunduk sambil menggeleng-geleng pelan.

“Oh, tidak masalah kalau kau tak mau menceritakannya sekarang, mungkin lain waktu?” kata gadis cilik menanggapi maksud dari bahasa tubuh anak itu.

“Kau...benar-benar...mau jadi...temanku?” kali ini anak laki-laki itu yang mengalihkan pembicaraan dengan ucapan terpotong-potong.

“He-eh,” jawab gadis cilik sambil mengangguk semangat.

“Kau...yakin...?” tanya anak itu meyakinkan.

“Kau meragukanku?” gadis cilik balik bertanya.

Anak itu menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.



“Jodie, ada yang harus kuberitahukan padamu,” kata wanita itu saat berada dimeja makan, “ini penting.”

“Apa itu?” tanya gadis cilik sambil menyendokkan mi kemulutnya.

Wanita itu memandang gadis ciliknya dengan perasaan ragu-ragu.

“Begini,” katanya memulai, “kau yakin tentang anak laki-laki yang menjadi temanmu itu?”

“Hah?”

“Maksudku, kau yakin ia tinggal dirumah tua itu?”

“Ya,” jawab gadis cilik sambil mengunyah makanannya, “lihat, ini hadiah ulang tahun dari Galih untukku,” gadis cilik menunjuk liontin yang tergantung dilehernya.

“Boleh aku lihat?” pinta wanita itu.

Gadis cilik cuma mengangguk sambil melepaskan liontin itu dan menyerahkannya kepada wanita itu. Wanita itu membuka liontin tersebut dengan dahi mengernyit.

“Itu dia, dan orang tuanya,” jelas gadis cilik.

Wanita itu menutup liontin tersebut sambil mengembalikannya pada gadis cilik. Ia menatap gadis ciliknya dengan prihatin. Namun wanita itu memantapkan hati untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

“Kau tahu rumah itu telah kosong sejak empat puluh tahun yang lalu?”

“Tidak,” jawab gadis cilik sambil terus menyendokkan mi-nya, “aku tidak ta...” gadis cilik tiba-tiba tidak jadi menyendokkan mie kedalam mulutnya. Matanya menyiratkan tanda tanya.

“Dan orang-orang yang ada dalam liontin itu adalah penghuni terakhir rumah itu empat puluh tahun yang lalu.”

Gadis cilik tak memberi sahutan. Ia masih memandang wanita itu tidak percaya. Hatinya terobrak-abrik, “kau bermaksud ingin bilang apa, Jun?”

“Orang tua anak yang bernama Galih itu tewas dalam sebuah kecelakaan yang direncanakan oleh orang-orang yang tidak menyukai kesuksesan ayah anak itu yang merupakan seorang diplomat. Galih, saat ia tengah ditinggalkan sendirian oleh orang tuanya dirumah itu, didatangi oleh sekelompok orang yang merupakan komplotan penjahat yang membuat seolah-olah orang tua anak itu tewas dalam kecelakaan biasa. Dirumah itu pula nyawa anak itu dihabisi.”

“Kenapa...kenapa mereka meninggalkannya sendirian?”

“1 Juli. Mereka sedang dalam perjalanan pulang untuk pencarian hadiah yang paling diinginkan oleh anak itu dihari ulang tahunnya.”

Gadis cilik menjatuhkan air mata tetes demi tetes, kemudian terdengar sedikit terisak, “kenapa...?”

“Aku juga turut prihatin, Jo, aku baru mengetahui tentang hal itu saat siang tadi aku pergi kecatatan penduduk setempat. Aku juga sempat mendatangi dan bertanya kepada pihak kepolisian dan pemilik komplek vila ini. Dan yang kudengar dari mulut mereka semua adalah hal yang sama.”

Sambil masih tersedu-sedu, gadis cilik menggeleng-gelengkan kepala, “tidak, itu bohong. Kau pasti bohong...”
“Aku juga awalnya tidak percaya akan hal ini...”

“Bohong! Jun, kau bohong padaku. Hal itu jelas tidak mungkin sebab aku begitu yakin bahwa dia ada, Galih hidup, tidak mati atau semacamnya!” rengek gadis cilik.

“Jo...”

“Kau lihat liontin ini, ini adalah bukti nyata bahwa dia ada, dia ada!” bantah gadis cilik.
“Dia memang ada sebelumnya, empat puluh tahun yang lalu...”

“Tadi siang aku masih ingat saat-saat aku berbicara dengannya dan dia pun berbicara padaku meskipun sedikit, tolong kau jangan mengada-ada seperti ini, Galih itu temanku...”

“Sayang, aku mengerti perasaanmu...”

Gadis cilik segenap berdiri seraya menghempaskan kedua tangannya diatas meja tanpa menyelesaikan makan malamnya. Kemudian berlari kekamarnya disertai dengan bantingan pintu.

Wanita itu masih kekeh dikursinya dan hanya mengeluh. Ia sempat akan membereskan piring makan gadis ciliknya yang masih penuh dengan mi setelah tanpa disadari olehnya sesuatu menyebabkan kesadarannya hilang dan tubuhnya bergerak sendiri. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, wanita itu berjalan lurus dengan pelan mengarah pada pintu yang diseberangnya adalah beranda dilantai dua. Bibirnya tampak pucat dengan kaki yang terus melangkah.



”Jun!” gadis cilik berseru memanggil bibi-nya sambil berlari-larian menyusuri kesetiap ruangan divila.

“Jun, aku ingin minta maaf!”

Seruan gadis cilik tak mendapat sahutan. Pagi itu gadis cilik tak menemukan memo mini ditempelkan dikulkas seperti yang biasa wanita itu lakukan setiap ia sebelum pergi kerja pagi-pagi sekali. Gadis cilik yang masih mengenakan piyama duduk dikursi meja makan dengan hati yang penuh tanda tanya. Didapatinya piring mi makan malamnya semalam yang masih utuh sedia kala. Gadis cilik terus mencari, berjalan dengan langkah kakinya yang mungil.

Gadis cilik kaget ketika ia keluar rumah, sesosok orang menyambutnya diseberang halaman sembari tetap tak berpindah dari ayunannya. Gadis cilik pun melangkah menghampiri seperti biasanya. Namun tidak menduduki ayunan disebelah anak laki-laki itu.

“Apa kau sejak tadi terus disini?” tanya gadis cilik dengan raut wajah penuh kecemasan.
Anak itu mengangguk sekali.

“Mm...begini, aku kehilangan Jun. Tidak biasanya Jun pergi tanpa bilang-bilang dulu padaku, atau setidaknya meninggalkan memo dikulkas seperti yang biasa dia lakukan sebelum pergi kerja. Piring makan malam juga tidak dibereskan. Apa kau melihat ia keluar rumah?”

Anak itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Begitu ya...” gumam gadis cilik, “kalau begitu aku harus mencarinya dimana lagi ya. Kau tahu, tadi malam kami sedikit bertengkar. Ia bicara tentang hal yang tidak-tidak. Masa’ katanya kau sudah meninggal, ada-ada saja Jun itu.”

“Kau percaya?” tanya anak itu dengan suara sayup-sayup.

“Tentu saja tidak,” jawab gadis cilik cepat.

“Mengapa?”

“Jelas saja bagiku mana mungkin kau sudah mati, dan buktinya adalah liontin ini!” gadis cilik berkata dengan tegas sambil memegang liontin yang dikenakannya.

Anak itu diam sebentar, kemudian mengarahkan pandangannya kearah vila milik gadis cilik. Gadis cilik pun melakukan hal yang sama. Dan alangkah terkejutnya ia ketika gadis cilik menatap kearah samping vila. Ia merasa kenyataan baru saja menghantam dirinya seperti ombak besar saat matanya mendapati pemandangan Jun dalam keadaan wajah mencium tanah dan tubuh yang tergulung kebelakang dengan sangat mengenaskan. 

Gadis cilik berlari dengan segera menghampirinya. Gadis cilik menangis meraung-raung memanggil nama bibi-nya. Ketika ia menyenggol, didapatinya tubuh bibi-nya telah kaku.

“Jun...ada apa ini?”

Gadis cilik beralih ketempat anak itu yang sedari tadi masih saja duduk terdiam diayunannya.

“Galih, kau tahu apa yang terjadi pada Jun?” tanyanya ditengah isakannya.

Pertanyaan gadis cilik itu dijawab dengan menghilangnya sosok anak itu dari hadapan gadis cilik begitu saja. Ekspresi gadis cilik itu hilang. Matanya melukiskan ketidak percayaan atas apa yang baru saja ia lihat. Tubuhnya pun mundur selangkah demi selangkah, tetapi malah menyebabkan ia jatuh terjerembab. Dalam keadaaan merangkak, ia tetap mundur dan terus mundur. Mulutnya seolah tak mampu bersuara untuk mengungkapkan semuanya. Ia menyeret dirinya sendiri ditanah sampai kepada mayat bibi-nya. Dan dengan tubuh yang gemetaran luar biasa, memeluk mayat bibi-nya tersebut.


Selesai

Map

Link